0

Andragogi dan Penyuluhan

PENERAPAN PRINSIP ADULT LEARNING DAN ACTION LEARNING CYCLE DALAM UPAYA MENUNJANG PROSES PENYULUHAN SAPI POTONG

  1. A. Adult Learning, mengapa perlu diketahui?

Sebuah keberhasilan program penyuluhan ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya: materi penyuluhan yang sesuai dan usable bagi peserta, kemampuan peserta dalam menyerap materi penyuluhan, waktu dan dana yang tersedia, fasilitas yang mendukung kegiatan penyuluhan dan kemampuan penyuluh dalam penyampaian materi. Penyuluh sebagai komunikator dalam proses penyuluhan merupakan komponen terpenting diantara berbagai kombinasi yang menentukan keberhasilan penyuluhan tersebut, karena penyuluh adalah salah satu aktor (selain partisipan) yang menjalankan sebuah program penyuluhan.

Peningkatan performance penyuluh seringkali hanya diarahkan pada pelatihan untuk meningkatkan kemampuan penyuluh dalam menyerap bahan penyuluhan dan keterampilan mereka dalam mempraktekkannya. Sedangkan kemampuan dalam lingkup komunikasi serta bagaimana penyuluh memahami peserta dan upaya mereka agar materi diterima dengan sempurna oleh peserta terkadang terlupakan. Padahal sangatlah penting bagi penyuluh untuk ‘mengenali’ klien mereka dalam arti mengerti karakteristik peserta penyuluhan dan untuk mampu memberikan metode pembelajaran yang tepat dalam proses penyuluhan.

Penyuluhan yang merupakan proses pembelajaran non formal memungkinkan pesertanya berasal dari tingkat umur yang berbeda-beda. Akan tetapi jika dilihat dari tujuan dari penyuluhan pertanian itu sendiri, peserta penyuluhan selalu diikuti oleh peserta yang dapat dikategorikan sebagai orang dewasa. Dimana orang dewasa disini memiliki arti bahwa orang tersebut telah bertanggung jawab atas kehidupan dirinya sendiri (Knowles, 1998). Dengan definisi demikian maka berarti proses pembelajaran dalam kegiatan penyuluhan tidak dapat disamakan dengan proses pembelajaran pada kanak-kanak yang cenderung memberikan tanggung jawab pada guru. Proses belajar pada penyuluhan bertumpu pada prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa atau Andragogi yang dititik beratkan pada partisipasi peserta dan memberikan kesempatan bagi peserta untuk menggunakan pengetahua serta pengalaman hidupnya dalam proses pembelajaran.

Pemberian pengetahuan kepada para penyuluh tentang Andragogi yang berisi tentang serangkaian prinsip serta empat tahap siklus pembelajaran yang dapat membantu peserta penyuluhan untuk menyerap materi dengan optimal merupakan tujuan dari pengabdian masyarakat ini. Diharapkan kegiatan ini dapat membantu para penyuluh dalam berkomunikasi dengan peserta dan membantu peserta mengambil manfaat dari materi penyuluhan dengan metode yang tepat dan nyaman bagi peserta maupun penyuluh itu sendiri.

  1. B. Prinsip-prinsip Adult Learning

Menurut Knowles ((Knowles, 1998), sehubungan dengan proses pembelajaran untuk orang dewasa, istilah ‘orang dewasa’ paling sesuai didefinisikan sebagai berikut:

when we arrive at self-concept of being responsible for own lives, of being self directing, atau dapat diartikan: apabila kita sampai pada konsep diri dimana kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri, dengan kemampuan untuk mengarahkan diri kita sendiri. Dengan demikian memberikan materi untuk orang dewasa akan berbeda dengan jika kita melakukannya untuk anak-anak. Pemberian materi ajar kepada anak-anak atau biasa disebut dengan model pedagogik didesain untuk mengajar anak-anak, dimana guru memiliki tanggung jawab penuh pada semua keputusan yang dibuat tentang isi, metode, waktu dan evaluasi. Pelajar hanya menjalankan peran yang pasif dalam dinamika proses belajar mengajar (Knowles 1998).

Orang dewasa membutuhkan proses belajar dengan menggunakan proses andragogik yang didasari oleh prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa. Terdapat serangkaian prinsip dalam membantu orang dewasa dalam Proses Belajar Mngajar/PBM (Fell 2005), yaitu sebagai berikut:

  1. Gunakan pengalaman mereka untuk dasar PBM; gunakan pengetahuan yang sudah ada dalam kelompok/individu..

Orang dewasa mengikuti aktivitas pelatihan ataupun pendidikan dengan berbagai macam alasan. Mereka juga membawa serta segudang pengalaman yang dapat digunakan untuk dasar aktivitas dalam kelas (disitasi dari Malouf 1993, Knowles 1990 dan Rogers 1973). Sangat penting bagi penyuluh untuk mengetahui pengalaman mereka, dimana penyuluh dapat mengetahui apa yang sudah mereka ketahui sehingga dapat mengembangkan materi ajar dari titik tersebut.

  1. Cipatakan suasana PBM yang nyaman dan memotivasi peserta.

Saat orang dewasa berhadapan dengan sebuah pengalaman pembelajaran baru, seringkali mereka merasa ragu dan was was jika sampai kekurangan mereka diketahui oleh umum (disitasi dari Rogers dalam Mohan, McGregor,  dan Strano, 1992,). Beberapa PBM harus dirancang untuk mengatasi perasaan ini. Oleh karena itu, akan sangat penting untuk dapat menciptakan sebuah lingkungan PBM yang nyaman, dimana meminta setiap peserta untuk berbagi pengalamannya selama ini bisa dijadikan sebagai titik awal PBM yang nyaman dan menyenangkan.

  1. Pastikan bahwa aktivitas PBM memenuhi kebutuhan dan berkaitan dengan masalah peserta.

Sebuah aspek yang perlu diingat adalah dalam semua aktivitas pembelajaran, orang dewasa harus merasa perlu untuk mempelajari materi yang diberikan (disitasi dalam Malouf 1993, Knowles 1999) dan mereka umumnya memiliki masalah-masalah tertentu yang harus dipecahkan darinya. Oleh karena itu, mereka berpartisipasi dalam PBM untuk mencari jawaban dari masalah-masalah tersebut. Dengan demikian, selayaknya pembelajaran perlu memiliki aspek praktis dimana aktivitasnya juga harus berkenaan dengan kebutuhan peserta. Cara yang paling tepat, peserta harus selalu terlibat dalam setiap kegiatan praktis pembelajaran.

  1. Libatkan peserta dalam merencanakan pengalaman PBM mereka.

Keterlibatan dan partisipasi dalam PBM juga aspek penting untuk orang dewasa; aktivitas-aktivitas PBM harus dirancang dalam Proses Pembelajaran yang memberikan dasar dalam melibatkan peserta (disitasi dari Honey and Mumford, 1986).

  1. Aktivitas-aktivitas dalam penyuluhan harus secara aktif melibatkan peserta, bersifat menstimulasi dan partisipatori.

Orang dewasa belajar karena dia ingin belajar, karena itu penyuluh harus mewujudkan keinginan tersebut. Aktivitas-aktivitas peserta harus dapat memberikan tantangan dan menstimulasi peserta.

  1. Berikan waktu bagi peserta untuk merefleksikan apa yang mereka pelajari, mengolah dan menerima materi secara perlahan dan selalu terbuka terhadap semua pertanyaan.

Refleksi terhadap apa yang telah dipelajari adalah elemen penting dalam prinsip pembelajaran orang dewasa – manusia membutuhkan waktu untuk memikirkan tentang apa yang mereka pelajari dan manfaatnya bagi diri mereka dan/atau pekerjaan mereka. Waktu untuk refleksi ini harus dimasukkan dalam jadwal PBM.

  1. Bangunlah rasa percaya diri kelompok maupun individu dengan membiarkan mereka mengatahui bahwa mereka benar, membangun rasa percaya diri bahwa mereka telah membuat kemajuan dalam mencapai tujuan pembelajaran mereka. Semua orang perlu merasa bahwa mereka telah membuat kemajuan dalam pembelajaran mereka – seperti halnya seorang pelajar yang ingin mengetahui nilai mereka secepat mungkin. Adalah sesuatu yang mungkin untuk membiarkan peserta mengetahui bahwa mereka elah memperoleh kemajuan dengan memberikan penghargaan untuk ‘kesuksesan’mereka. Pujilah mereka yang melakukan hal yang benar – berikanlah lebih banyak pjian dibandingkan mengoreksi kesalahan mereka.
  2. PBM harus menggunakan komunikasi dua arah.

PBM akan sulit diakukan tanpa komunikasi dua arah. Dialog antara penuluh dan peserta dan antar peserta harus ada dalam PBM. Ini adalah sentral dari proses pembelajaran/pelatihan.

  1. C. Action Learning Cycle

Dalam membantu mendesain proses belajar mengajar Fell (2005) memberikan sebuah Siklus Pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam berbagai tingkat aktivitas dan dapat membantu peserta untuk menyerap materi yang diberikan secara optimal. Siklus Pembelajaran tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Action Learning Cycle (Fell, 2005)

Siklus pembelajaran tersebut terdiri dari 4 tahap:

  1. Reflection Stage

Merupakan tahap refleksi dimana peserta diminta untuk kembali menelaah apa yang telah mereka pelajari/lakukan sebelumnya.

  1. Conclusion Stage

Dalam tahap menyimpulkan, peserta diberi waktu untuk menyimpulan observasi dan refleksi mereka.

  1. Plan Stage.

Peserta diminta untuk menyampaikan bagaimana mereka dapat meningkatkan performan mereka dengan menggunakan pengalaman pembelajaran mereka dalam sebuah rancangan tertulis.

  1. Act Stage

Peserta diminta untuk melaksanakan rencana mereka, dimana tahap ini bisa dilanjutkan dalam sesi pertemuan berikutnya.

Penyuluh dapat melakukan keempat tahap di atas dengan berbagai teknik, aktivitas dan metode yang disesuaikan dengan: waktu, tempat dan biaya yang tersedia, kemampuan penyuluh dalam berkomunikasi, maupun kemampuan, pengetahuan dan pengalaman pribadi para peserta.

  1. A. Contoh penerapan siklus pembelajaran dalam praktek

Dalam kegiatan penyuluhan, contoh penerapan siklus pembelajaran dalam prakteknya adalah sebagai berikut ini, dimana kita mengambil contoh pada Penyuluhan Pembuatan Urea Molasses Block pada peternak sapi perah.

Act:  

Partisipan mengikuti penyuluhan tentang pembuatan Urea Molasses Block, terdiri dari presentasi dan praktek pembuatan.

Reflect: 

Refleksi peserta penyuluhan, tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dilakukan pada saat penyuluhan berlangsung. Peserta diminta untuk mengisi lembar isian, bila peserta buta huruf dapat diganti dengan sharing dengan peserta di dekatnya.

Conclude: 

Evaluasi penyuluhan, tentang apa yang dipelajari partisipan dan bagaimana cara mereka mengaplikasikan yang mereka pelajari tersebut dalam dunia nyata. Partisipan Caranya bisa dengan berbagi pendapat di forum.

Plan: 

Partisipan diminta untuk merancang secara mendetil, terarah  dan tertulis tentang rencana yang mereka buat di tahap sebelumnya.

 

Referensi

 

Fell, R 2005, Extending the use of adult learning principles from training to extension ectivities, Building Capacity for Sustainable Resource Management…Moving a Wheelbarrow Full of Frogs!, Conference Proceedings, NRM Extension Symposium, Toowoomba, Queensland.

 

Foster, D. 2002, Prescriptive Processes to Frameworks – The Evolution of a Learning System and Operational Framework for Professionals Engaged in Community Developments, Master Thesis, University of Queensland, Australia.

 

Knowles, M 1998, ‘A Theory of adult learning: andragogy, theories of teaching’, The adult learner: a neglected species, Gulf Publishing Company, Texas.

Malouf, D 1994, How to Teach Adults in a Fun and Exciting Way, Business and Professional Publishing, Chastwood, Australia, 12-15.

Mohan, T, McGregor, H & Strano, Z 1992, Communicating! Theory and practice, 3rd edition, Harcourt & Company, Australia.

0

Tugas Presentasi Sosiologi Pedesaan Kelas A

Semua kelompok mulai Kelompok 1-10 mengirim copy power point yang SUDAH dan AKAN dipresentasikan ke iza.amir@yahoo.com.
Keluhan tentang anggota kelompok yang tidak aktif selalu diperhatikan dan dicatat sebagai pertimbangan, dan selalu menjadi rahasia antara pengirim dengan dosen pengasuh.
Komponen penilaian presentasi terdiri dari:
1. Kualitas isi presentasi
2. Kualitas penyajian materi
3. Keaktifan anggota saat diskusi
4. Kemampuan menganalisa masalah dan problem solution
Terimakasih.

0

New e-book

My new e-book, published by UB Press. Titled ”Practical Guide for Agricultural Extension Officers”, already has ISBN registration and will be issued early 2011 (InsyaAllah…hopefully ;) )…Check it out and find how it can assist you in Communication Management in Agricultural fields.